Ranggasena Rancang Otomasi Pemantauan pH dan Suhu Air Tambak Udang

Ranggasena Rancang Otomasi Pemantauan pH dan Suhu Air Tambak Udang

Bandar Lampung – Tumbuh besar di Bumi Dipasena, Tulang Bawang, Lampung membuat  Ranggasena Tranggana terbiasa melihat proses pertambakan udang. Hal itu membuat mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya ini berinisiatif merancang alat otomasi pemantauan potential of Hydrogen (pH) dan suhu air tambak udang.

Ranggasena menghabiskan waktu sekitar 2 bulan untuk merancang alat yang menjadi tugas skripsinya di jurusan Sistem Komputer. Untuk biaya pengerjaan prototype ini, ia menghabiskan dana sekitar Rp 1 juta.

Mahasiswa fakultas Ilmu Komputer ini menjelaskan, kondisi air sangat berpengaruh bagi pertumbuhan udang. Jika kadar pH pada air lebih dari 8 dan kurang dari 7, serta suhu air kurang dari 25o celcius atau lebih dari 30o celcius dapat menyebabkan kematian mendadak pada udang atau yang lebih dikenal dengan sebutan EMS (Early Mortality Syndrome). Karena itu, kondisi pH dan suhu air harus terpantau untuk meminimalisir terjadinya EMS yang dapat menyebabkan kerugian bagi petani udang.

“Alat otomasi pemantauan Ph dan suhu air tambak udang ini bekerja menggunakan metode DFMA (Design for Manufacture and Assembly). Sensor pengukur pH dan suhu dipasang pada air tambak yang akan diproses oleh arduino. Jika pH atau suhu diluar batas aman maka sistem otomatis akan menghidupkan pompa air untuk menstabilkan pH atau suhu,” ujar pria kelahiran 11 Oktober 1994 ini.

Anak pertama dari dua bersaudara ini melanjutkan, kondisi pH dan suhu juga dapat terpantau memalui layar LCD. Suhu dan kadar pH air dapat distabilkan kembali kondisinya dengan mencampurkan air yang mempunyai kondisi baik kedalam air tambak yang bermasalah sampai air yang ditambak memiliki kondisi pH dan suhu air sesuai referensi.

“Selain itu, alatnya ini juga dirancang dengan mengirimkan pesan singkat kepada petambak mengenai kondisi perubahan kadar pH dan suhu air, sehingga petambak dapat mengetahui kondisi tambak meski tidak berada dilokasi. Dengan kondisi air yang terjaga kualitas pH dan suhunya, udang tambak mampu hidup dengan baik dan pertumbuhannya lebih optimal,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset IBI Darmajaya, Dr. RZ. Abdul Aziz, ST., MT mengatakan, IBI Darmajaya mengapresiasi dan mendukung mahasiswanya untuk aktif melakukan penelitian.

“Penelitian menjadi salah satu bagian dari tri dharma perguruan. Selain menunjukan mahasiswa menguasai ilmu dari proses perkuliahan, melalui penelitian mereka juga bisa menyumbangkan ide, pemikiran, dan berinovasi dalam memecahkan suatu permasalahan yang ada dilingkungan masyarakat,” ujarnya.

Abdul Aziz menambahkan, setiap tahunnya ratusan penelitian mahasiswa IBI Darmajaya dihasilkan. Tak jarang pula, penelitian tersebut memperoleh penghargaan dengan memenangkan kompetiti dan mendapatkan hibah dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi baik dibidang akademik maupun kewirausahaan.

“Kami juga membuka ruang bagi berbagai pihak untuk mengaplikasikan produk-produk penelitian mahasiswa yang memungkinkan digunakan pada sektor bisnis dan industri,” ungkapnya.(*)

Ranggasena Rancang Otomasi Pemantauan pH dan Suhu Air Tambak Udang

Ranggasena Rancang Otomasi Pemantauan pH dan Suhu Air Tambak Udang

Bandar Lampung – Tumbuh besar di Bumi Dipasena, Tulang Bawang, Lampung membuat  Ranggasena Tranggana terbiasa melihat proses pertambakan udang. Hal itu membuat mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya ini berinisiatif merancang alat otomasi pemantauan potential of Hydrogen (pH) dan suhu air tambak udang.

Ranggasena menghabiskan waktu sekitar 2 bulan untuk merancang alat yang menjadi tugas skripsinya di jurusan Sistem Komputer. Untuk biaya pengerjaan prototype ini, ia menghabiskan dana sekitar Rp 1 juta.

Mahasiswa fakultas Ilmu Komputer ini menjelaskan, kondisi air sangat berpengaruh bagi pertumbuhan udang. Jika kadar pH pada air lebih dari 8 dan kurang dari 7, serta suhu air kurang dari 25o celcius atau lebih dari 30o celcius dapat menyebabkan kematian mendadak pada udang atau yang lebih dikenal dengan sebutan EMS (Early Mortality Syndrome). Karena itu, kondisi pH dan suhu air harus terpantau untuk meminimalisir terjadinya EMS yang dapat menyebabkan kerugian bagi petani udang.

 

“Alat otomasi pemantauan Ph dan suhu air tambak udang ini bekerja menggunakan metode DFMA (Design for Manufacture and Assembly). Sensor pengukur pH dan suhu dipasang pada air tambak yang akan diproses oleh arduino. Jika pH atau suhu diluar batas aman maka sistem otomatis akan menghidupkan pompa air untuk menstabilkan pH atau suhu,” ujar pria kelahiran 11 Oktober 1994 ini.

Anak pertama dari dua bersaudara ini melanjutkan, kondisi pH dan suhu juga dapat terpantau memalui layar LCD. Suhu dan kadar pH air dapat distabilkan kembali kondisinya dengan mencampurkan air yang mempunyai kondisi baik kedalam air tambak yang bermasalah sampai air yang ditambak memiliki kondisi pH dan suhu air sesuai referensi.

“Selain itu, alatnya ini juga dirancang dengan mengirimkan pesan singkat kepada petambak mengenai kondisi perubahan kadar pH dan suhu air, sehingga petambak dapat mengetahui kondisi tambak meski tidak berada dilokasi. Dengan kondisi air yang terjaga kualitas pH dan suhunya, udang tambak mampu hidup dengan baik dan pertumbuhannya lebih optimal,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset IBI Darmajaya, Dr. RZ. Abdul Aziz, ST., MT mengatakan, IBI Darmajaya mengapresiasi dan mendukung mahasiswanya untuk aktif melakukan penelitian.

“Penelitian menjadi salah satu bagian dari tri dharma perguruan. Selain menunjukan mahasiswa menguasai ilmu dari proses perkuliahan, melalui penelitian mereka juga bisa menyumbangkan ide, pemikiran, dan berinovasi dalam memecahkan suatu permasalahan yang ada dilingkungan masyarakat,” ujarnya.

Abdul Aziz menambahkan, setiap tahunnya ratusan penelitian mahasiswa IBI Darmajaya dihasilkan. Tak jarang pula, penelitian tersebut memperoleh penghargaan dengan memenangkan kompetiti dan mendapatkan hibah dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi baik dibidang akademik maupun kewirausahaan.

“Kami juga membuka ruang bagi berbagai pihak untuk mengaplikasikan produk-produk penelitian mahasiswa yang memungkinkan digunakan pada sektor bisnis dan industri,” ungkapnya.(*)